Impianmu VS Keinginan Orang Tuamu
Sobat punya impian yang ingin diwujudkan, dan orang tua mendukung sepenuhnya? Selamat! Tapi bagaimana jika impian dan cita-cita kita tersebut justru tidak direstui orang tua? Selamat juga! Sobat sedang dalam dilema besar.
Sebagai seorang anak, berbakti pada orang tua adalah suatu kewajiban. Sejak kecil kita telah diajarkan baik itu di rumah, sekolah, maupun lingkungan bahwa kata-kata orang tua itu harus didengarkan dan dipatuhi. Itu memang benar. Namun beranjak remaja bahkan dewasa, terkadang orang tua masih saja suka mengatur dan memutuskan apa yang terbaik untuk anaknya. Memang, hal ini untuk kebaikan sang anak. Namun celakanya, banyak orang tua yang bahkan tidak peduli apa kemauan dari sang anak, apa cita-citanya, apa keinginan hatinya, mereka tetap memaksakan apa yang mereka pikir benar.
Contoh paling mudah dan sering terjadi khususnya di Indonesia, orang tua memutuskan anaknya masuk ke sekolah mana, mengikuti kursus dan pelajaran tambahan apa, bahkan saat akan memasuki dunia kuliah pun sebagian orang tua ada yang menyetir jurusan mana yang harus dimasuki anaknya. Walaupun anak tersebut tidak menyukainya, daripada dikatakan anak durhaka, akhirnya ia menurut saja. Walaupun pada akhirnya ia menjalani semuanya dengan terpaksa.
Dalam beberapa forum, perbincangan, diskusi, dan sebagainya seringkali terungkap bahwa banyak orang yang melakukan pekerjaan yang tidak sesuai hatinya karena ingin menyenangkan orang tuanya. Ia ingin menjadi pengusaha, merintis bisnisnya sendiri, namun orang tuanya justru menentangnya dan menyuruhnya mendaftar masuk PNS atau bekerja di bank.
Memenuhi harapan orang tua adalah baik, menggapai impianmu sendiri juga baik. Lalu bagaimana menyatukan keduanya?
Ada sebuah kisah sukses seorang pengusaha tas. Ia merupakan lulusan sebuah perguruan tinggi. Setelah lulus kuliah, ia memberanikan diri untuk membuka bisnisnya sendiri walaupun orang tuanya lebih menginginkan ia menjadi seorang pegawai negeri. Singkat cerita, bisnis sang anak ini ternyata sukses sampai bisa membuatnya membeli rumah dan mobil sendiri, percaya atau tidak, sekarang orang tuanya malah berkata bahwa pekerjaan sebagai wiraswasta atau menjadi pengusaha lebih baik. Bisa ditaqrik kesimpulan? Sebenarnya orang tua hanya khawatir pada anaknya, maka mereka pun memikirkan apa yang terbaik untuk anaknya berdasarkan apa yang mereka ketahui.
Mungkin puisi dari Kahlil Gibran ini mampu mencerahkan.
ANAKMU BUKAN MILIKMU
Anakmu bukanlah milikmu,
Yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka adalah putra-putri sang hidup,
Yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
Tapi bukan dari engkau,
Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Tapi bukan dari engkau,
Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
Namun jangan sodorkan pemikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Namun jangan sodorkan pemikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
Namun tidak bagi jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tidak dapat kau kunjungi,
Sekalipun dalam mimpimu.
Namun tidak bagi jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tidak dapat kau kunjungi,
Sekalipun dalam mimpimu.
Post a Comment for "Impianmu VS Keinginan Orang Tuamu"