Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dear Boss, I QUIT!



I Hate Monday!

Apa ada sobat yang terkena sindrom, I Hate Monday? Ya, saya benci hari senin. Hari senin berarti liburan usai, saatnya kembali bekerja. Kembali melakukan aktivitas yang itu lagi, itu lagi. Daripada bangun dari tempat tidur, lebih baik bermalas-malasan. Toh, pekerjaan di kantor hanya melakukan hal yang membosankan dan memuakkan setiap hari, bertahun-tahun melakukan hal yang sama. Tidak ada lagi yang namanya passion, semangat, antusiame, gairah, untuk melakukan pekerjaan, yang tersisa hanyalah muak.

Ini tejadi pada banyak orang yang membenci pekerjaannya. Hal yang paling bisa dilihat seseorang benci pekekerjaannya adalah saat ia bangun tidur. Tidak ada sama sekali semangat untuk pergi bekerja, yang ada malah bermalas-malasan, tak jarang malah kembali menarik selimut. Pergi ke tempat bekerja melakukan hal yang sama setiap hari, tidak ada perkembangan diri. Tentu saja karena melakukan pekerjaan yang monoton, kemampuan dan skill mandek tidak bertambah. Ditambah lagi gaji atau pendapatan yang segitu saja, walaupun ada kenaikan hanya kecil sekali. Kalah jika dibandingkan tingkat inflasi. Harga-harga kebutuhan makin meningkat sementara gaji hanya segitu-segitu saja. Sehingga ujung-ujungnya mulailah keluar keluhan dan kerja menjadi asal-asalan.

Apa hal-hal di atas terjadi pada sobat? Mungkin saatnya untuk bilang pada Bosmu: I Quit, Boss! Mungkin saatnya untuk menuliskan surat cinta pada bosmu, hehe.. Sebuah surat pengunduran diri memajukan diri.

Tapi hal yang lucu adalah orang-orang yang benci pekerjaannya ini tidak pernah berani menuliskan surat itu. Tentunya yang paling sering keluar adalah alasan karena tidak adanya jaminan bila keluar kerja, memangnya mau makan apa kalau tidak bekerja. Begitu kata mereka. Atau sebagian lagi ada yang bercita-cita jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam kalau ia ingin memulai bisnisnya sendiri, namun comfort zone yang dirasakan selama ini seperti belenggu yang sulit untuk dilepaskan. Mereka menginginkan kepastian. Padahal dalam bisnis tidak ada yang namanya kepastian.

Sebuah kisah sukses datang dari Dwifung Wirajaya Saputra, seorang mantan security bergaji 1,5 juta yang berani resign dari pekerjaannya dan menjadi bos perusahaan outsourching security dengan omzet mencapai lebih dari 5 milyar per bulan.

Selalu saja ada kisah-kisah orang-orang pemberani yang berani menukarkan kepastian pekerjaannya, gaji yang sudah pasti, jabatannya, mereka menukarkannya dengan ketidakpastian dunia usaha. Jatuh bangun menjalaninya. Dikatakan bodoh, ditertawakan. Tapi lihatlah siapa yang sekarang tertawa?


abababa

Post a Comment for "Dear Boss, I QUIT!"